Kesububuran Tanah Penting Bagi Pangan Dunia

By admin
In Artikel
Jan 13th, 2016
1 Comment
731 Views
new-1

.©IFAD/Horst Wagner

Pada Hari Tanah Sedunia, IFAD (sebuah Badan Dana Internasional PBB untuk Pembangunan Pertanian) menghimbau untuk memperbaiki pengelolaan tanah sehingga dapat meningkatkan hasil dan ketahanan pangan bagi banyak masyarakat miskin pedesaan.

Roma, 7 Desember 2015 – Tanah merupakan dasar dari 95 % produksi pangan dunia. Tetapi, banyak masyarakat tidak dapat memahami keterkaitan antara pentingnya keadaan tanah dengan pangan, air, iklim, keanekaragaman hayati, dan kehidupan.

Inilah alasannya mengapa PBB mengadakan Hari Tanah Sedunia pada tanggal 5 Desember, yang menyoroti pentingnya peran tanah di seluruh dunia dalam hal ketahanan pangan dan nutrisi dunia.

Majelis Umum PBB pada bulan Desember 2013 mengumumkan bahwa tahun 2015 sebagai International Year of Soils (IYS) atau Tahun Tanah Internasional.

Tanah sangat berperan penting dalam kegiatan IFAD di negara-negara berkembang.

Banyak pendekatan proyek dan program dana berkelanjutan IFAD yang memungkinkan para petani kecil untuk menghasilkan banyak hasil pangan yang sekaligus dapat memberi makan bagi banyak orang dengan meningkatkan ketahanan para petani kecil terhadap perubahan iklim dan melindungi lingkungan.

“Perlu adanya investasi pada tanah untuk menjaga kesuburan dan menghasilkan pangan yang berkualitas,” kata Robert Delve, Ketua Tenaga Ahli Teknis di bidang Agronomi.

Kaitan antara perubahan iklim dan tanah.

new-3Degradasi atau penurunan sifat-sifat alami tanah, seperti yang ada di lembah Quomogomong di Lesotho, saat ini mempengaruhi 33% tanah di seluruh dunia yang disebabkan oleh erosi, salinisasi atau proses berakumulasinya garam yang terlarut di dalam tanah, kepadatan, asidifikasi atau pengasaman, pencemaran kimiawi dan penurunan kandungan unsur hara. ©IFAD/Giuseppe Bizzarri
Hari Tanah Sedunia pada tahun ini bertepatan dengan United Nations climate change conference (COP21) atau konferensi perubahan iklim PBB, yang berlangsung di Paris.
Hal mengenai tanah menjadi bagian penting dalam konferensi perubahan iklim, seperti perubahan penggunaan lahan dan drainase atau pengaliran pada tanah organik untuk pertanian yang saat ini menanggung 10% dari seluruh emisi gas rumah kaca. Menurut para ahli, kejadian seperti ini hampir dua kali lipat setelah 50 tahun lalu dan akan meningkat 30% menjelang tahun 2050, apabila tidak ada usaha lebih untuk menguranginya.

Tanah dapat membantu melawan dan menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim melalui peran pentingnya dalam siklus karbon melalui penyerapan karbon dan pengurangan emisi gas rumah kaca.

Kebanyakan karbon organik di seluruh dunia tersimpan di samudera dan tanah yang ada di bumi. Sebagai contoh, setiap tanah yang ada di hutan menyimpan sekitar 45% karbon yang setara dengan biomassa hutan global.

Memperbaiki pengelolaan tanah dapat memberikan manfaat dalam mengurangi peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfir.

Pemeliharaan tanah sebagai sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui penting untuk meningkatkan produktivitas pertanian, melawan perubahan iklim, dan memenuhi ketahanan pangan dunia,” kata Delve.

Akan tetapi, tantangannya adalah tanah yang ‘baik’ mengalami penurunan kandungan dalam tingkat yang mengkhawatirkan.

Diperkirakan kurang lebih 33% tanah di bumi telah terdegradasi karena erosi, salinisasi, kepadatan, asidifikasi, pencemaran kimiawi, dan penurunan kandungan unsur hara.

Delve mencatat bahwa masyarakat pedesaan juga berkontribusi besar dalam mengelola tanah dengan baik, meskipun mereka sangat terpengaruh oleh penyusutan lahan.

Komitmen IFAD terhadap konservasi tanah

Saat ini, lebih dari setengahnya dari 1,5 milyar hektar tanah yang dapat ditanami di bumi ini sudah terdegradasi atau bahkan parah, baik kehilangan struktur atau kesuburannya.

“Petani kecil yang sangat miskin berusaha keras untuk menghasilkan hasil pangan yang cukup dengan sering kali mengolah tanah secara berlebihan dan tidak mengusahakan untuk melakukan praktek-praktek konservasi tanah yang berkelanjutan,” kata Delve.

Walaupun tanah di bumi ini semakin tidak subur, Delve mengatakan bahwa kecenderungan ini dapat diubah dengan ketentuan negara-negara mengambil alih dalam mendorong praktek-praktek pengelolaan yang berkelanjutan dan penggunaan teknologi yang tepat.

Komitmen IFAD terhadap konservasi dan restorasi atau pemulihan tanah menjadi bagian dalam usaha untuk memperbaiki pengelolaan sumber daya alam.

Beberapa proyek dan program IFAD yang berhubungan dengan perubahan iklim, lingkungan, dan pengelolaan air memasukkan luas tanah dalam rancangan dan pelaksanaannya.

Dampaknya adalah langsung. Praktek-praktek pengelolaan tanah yang berkelanjutan seperti agroekologi, pertanian organik, agrikultur konservasi, agrokehutanan, dan tanpa olah tanah atau prosedur penanaman yang dilakukan langsung tanpa persiapan, dapat meningkatkan hasil panen dengan rata-rata 58%.

Banyak kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesuburan tanah juga mencakup kepemilikan tanah jangka panjang dan akses jalan.

Delve mencatat bahwa perlindungan hak tanah dalam jangka pendek hingga jangka menengah adalah dasar dalam menyediakan kerangka kerja untuk investasi tanah dan pengelolaan lahan dalam jangka lebih panjang bagi para petani kecil.

“Tanpa perlindungan kepemilikan ini, setiap keluarga tidak dapat memperoleh hasil untuk intervensi jangka lebih panjang yang akan melaksanakan pengelolaan tanah yang berkelanjutan,” kata Delve. “Sehingga, mereka kembali ke pendekatan jangka pendek yang kemudian mengurangi mutu sumber daya alam”

Sebuah laporan baru yang diterbitkan oleh PBB memberikan solusi bagi negara-negara untuk mengambil alih dalam mendorong praktek-praktek pengelolaan yang berkelanjutan dan penggunaan teknologi yang tepat.

Laporan tersebut menetapkan empat tindakan utama:

  • Meminimalkan degradasi tanah lebih lanjut dan memperbaiki produktivitas tanah yang terdegradasi di daerah-daerah yang paling membahayakan masyarakatnya.
  • Menyeimbangkan penyimpanan bahan organik tanah secara global, baik itu termasuk karbon organik dan organisme tanah;
  • Menyeimbangkan atau mengurangi penggunaan pupuk yang mengandung nitrogen dan fosfor secara global dengan meningkatkan penggunaan pupuk lokal dari defisiensi atau kekurangan unsur hara; dan,
  • Meningkatkan pengetahuan mengenai wilayah dan kecenderungan kondisi tanah.

Fokus pada bagaimana tanah dapat selalu mendukung kemajuan dan keberlanjutan pertanian.

Baru-baru ini diumumkan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan-Tujuan Pembangunan yang Berkelanjutan, yang meliputi banyaknya petunjuk mengenai perlindungan, pelestarian, dan investasi tanah.

Seperti telah dikatakan oleh Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, dalam pesannya di Hari Tanah Sedunia: “Mari kita mendorong pengelolaan tanah yang berkelanjutan dengan berpedoman pada pengelolaan tanah yang baik dan investasi yang kuat. Kita dapat bersama-sama mendorong masalah tanah sebagai sebuah alasan yang sangat kuat untuk kehidupan”

Sumber: http://www.ifad.org/events/soil2015/index.htm

Diterjemahkan oleh: Agustina Firdyaningsih

Komunitas Bangun Desa Indonesia

One Response to “Kesububuran Tanah Penting Bagi Pangan Dunia”

  1. lasealwin says:

    Yee. Kesuburan tanah yang berkelanjutan adalah jaminan usaha tani dari generasi ke generasi. Terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

facebook comments: