Tidak semua harus jadi Pengusaha (Part 1)

By admin
In Artikel
Nov 3rd, 2015
1 Comment
673 Views

Fenomena menjadi Pengusaha sangat booming sejak 5 tahun terakhir ini, didorong oleh mudahnya akses informasi dan penyebaran virus-virus entrepreneur, dan juga seminar-seminar entrepreneur yang marak dilaksanakan di kampus-kampus di negeri ini. Lambat laun, mulai mengendur lagi, seperti yang mulai dirasakan pada akhir-akhir ini, banyak seminar kewirausahaan yang diobral karena sepi pengunjung. Banyak yang tertipu dengan model investasi yang menghasilkan laba cepat, mulai dari investasi property, MLM, Umroh, Emas, Koperasi, Pohon Jati, dan banyak lain lagi.

Al6jSlBaE1jldWWIwldUttciEhW9KmdPcpCAol98ntOzPada masa awal banyak yang berbondong-bondong ingin keluar dari kantor, melompat kuadrant setelah buku R. Tiyosaki laris manis dan buku ini yang dijadikan senjata bagi pejuang multi level untuk mendapatkan downlinenya. Setelah 3-4 tahun berjalan, akhirnya mulai bermunculan sebuah ide baru, entrepreneur yang lebih mulia katanya “social entrepreneur” jargon ini kembali menggelombang, mulai bermunculan program-program social entrepreneur yang diciptakan oleh berbagai organisasi, untuk memunculkan sosok-sosok entrepreneur baru yang berjiwa social.

Menjadi pengusaha adalah sebuah proses yang panjang, tidak ada jalan pintas kecuali kamu adalah anak pengusaha atau menjadi mantu pengusaha. Baik entrepreneur murni maupun social entrepreneur kesemuanya butuh proses, bisa 3 – 5 tahun, tergantung proses belajar, kekuatan jaringan, dan kekuatan modal yang diperoleh. Setelah saya menggeluti di bidang entrepreneurship selama 3 tahun terakhir ini, berikut saya menemukan kunci-kunci yang harus dipahami sebelum menjadi entrepreneur, meskipun sampai saat ini penulis masih terus berjuang dan terus belajar untuk tumbuh dan mengembangkan bisnis.

Karena banyaknya acara seminar entrepreneur dan buku-buku entrepreneur laris dipasaran, menjadi entrepreneur seakan-akan menjadi sebuah kewajiban. Bahkan ada sebagian dari kita yang menyebut entrepreneur derajadnya lebih tinggi dibandingkan dengan profesi lainnya, eiits belum tentu ya, Allah tidak menyebutkan bahwa entrepreneur lebih tinggi derajadnya, yang jelas dan dipastikan ditinggikan derajadnya adalah orang yang beriman dan berilmu. Allah pun tidak memandang dirikita dari status yang kita sandang, profesinya yang kita peroleh melainkan derajad Taqwa yang dilihat oleh Allah SWT. Konsepsi ini harus benar-benar dipahami, agar kita tidak sombong dan tidak minder ketika bertemu dengan orang lain. karena belum tentu bahwa kita atau dia yang lebih mulia dihadapan Allah, hanya Allah lah yang tahu status kita.

  1. Allah tidak menyuruh semua manusia menjadi entrepreneur

Kita harus memahi benar bahwa Tuhan pencipta ini tidak mewajibkan mahkluknya menjadi entrepreneur. Yang diwajibkan adalah mencari nafkah yang halal, mencari nafkah yang halal ini bisa dilakukan melalui banyak cara boleh bekerja, berwirausaha, berdagang, bertani, ataupun sebagai self employee semacam dokter, pengacara, guru dan sebagainya. Dunia tidak membutuhkan semua manusia menjadi entrepreneur, secara statistic bahwa hanya butuh 2% saja agar suatu Negara bisa maju dan mandiri. Jadi dari 100 orang hanya butuh 2 orang. Mengapa demikian? Jawabannya ada dalam point selanjuntnya.

  1. Pahami benar karaktermu

Menjadi entrepreneur dibutuhkan karakter yang kuat dan kemampuan yang matang, karakter sudah banyak di buku-buku entrepreneur seperti disiplin, tanggung jawab, leadership, pantang menyerah, dll. Ini sebagian kecil dari karakter-karakter yang diperlukan menjadi seorang entrepreneur. Semua itu perlu diuji dari pengalaman-pengalaman Anda menjalankan apapun, baik organisasi, kepanitiaan, pendidikan, mendaki gunung, kecelakaan, kebakaran dll. Coba renungkan karakter-karakter yang muncul saat Anda dalam situasi-situasi itu.

One Response to “Tidak semua harus jadi Pengusaha (Part 1)”

  1. […] Lanjutan dari artikel Tidak Semua Harus Jadi Pengusaha (Part 1) […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

facebook comments: