Mudik 2014

By farisbudi
In Artikel
Aug 12th, 2014
0 Comments
470 Views
Mudik
Mudik, fenomena tahunan yang selalu terjadi di Indonesia. Hari ini akan saya sampaikan bagaimana fenomena ini memang ditunggu2 oleh warga daerah yang tinggal di Ibukota. Selasa, 22 Juli 2014 saya mengikuti program mudik bersama dari jasa raharja, organisasi pelat merah yang menaungi para pengendara baik darat, laut, dan udara. Memilih jalur darat dan bersama-sama dengan banyak orang di level menengah memang selalu banyak cerita dan kenalan. Di salah satu Bus pariwisata yang disewa oleh penyelenggara, jurusan wonosari, saya pulang dari Jakarta ke Yogyakarta. Jalur selatan menjadi pilihan karena adanya informasi jembatan comal yang akan roboh.
Sejenak setelah para penumpang sudah memenuhi bus, saya benar-benar merasakan aura kebersamaan mereka, apalagi di satu bus tersebut terdiri dari orang-orang dengan tujuan yang sama yaitu wonosari, Yogyakarta. Ya, banyak sekali perantau dari daerah tersebut, mereka mengadu nasibnya untuk menjadi penjual bisa warteg, bakso, toko, dan karyawan. Setelah setahun mereka menjemput rezeki di Jakarta, pada akhirnya pulang menjadi momen yang ditunggu-tunggu untuk melihat kondisi di kampung dan berkunjung ke sanak family.
Alhamdulillah, perjalanan lancar berangkat jam 10 Siang dari Jakarta, sampai Jogjakarta pukul 12.00 malam (14 Jam).  Mudik kali ini sebenarnya sudah yang kedua, tetapi pengalaman pertama tak seseru pengalaman saat ini.
Di Yogyakarta
Ya, sepulang di Bantul saya tetap beraktifitas untuk silaturahmi ke teman2, menjenguk ayah teman yang sakit, ke rumah sahabat, sharing dengan tokoh dan belanja. Ya selama di Bantul, saya cukup rutin belanja di pasar Beringharjo untuk dijual kembali di kios ibu saya. Hal yang patut, diperhatikan ketika pulang ke kampung halaman dari merantau adalah tentang kondisi kita di rantauan dan status yang melekat pada diri kita.
Presepsi orang di kampung ketika kita pulang dari merantau adalah membawa uang banyak, bekerja di kantoran, bekerja dengan rapi, bahkan menjadi PNS, ya banyak lah tidak ada satupun yang menanyakan tentang kualitas hidup kita, apakah meningkat atau menurun, keagamaan kita, apakah meningkat atau menurun. Semua pertanyaan memang berkaitan dengan yang dapat dilihat, kog tambah kurus, kog masih sama, kog tambah hitam, kog gak pakai pesawat, kog gak pakai kereta, dll. Ya kita harus berbesar hati. Sampaikan dengan senyum.. karena seringkali kita juga menghakimi orang lain dengan pertanyaan2 serupa, (introspeksi)
Perlu diketahui ya kawan-kawan dan keluargaku, kerena saya mudik bersama-sama orang yang biasa-biasa ternyata, tidak semua orang pulang membawa uang yang banyak, mereka pulang hanya kangen dengan keluarga setelah satu tahun merantau.
Ya sekitar 10 hari di rumah cukup bagi saya untuk sejenak melupakan aktifitas di rantau, bersilaturahmi, dan menyapa sahabat. Lebih-lebih bisa membantu saudara-saudara kita, teman-teman kita untuk membuka pikiran dan pandangan tentang hakikat kehidupan.
Arus Balik
Arus balik kali ini menjadikan momen yang tidak akan terlupakan, perjalan di H-2 masuk aktif harus ditempuh dengan waktu 51 jam. Perjalanan Jogjakarta – Bogor. Wow Banget pokoknya. Ya inilah cara Allah menjawab doa saya. Sebelum Pulang saya pernah ditanya oleh teman, “Ris, macet lho kalo pake bus, pulang di hari itu” aku jawab, “Gak Papa, Kalo belum pernah tau macet, gak bisa rasaen nikmatnya lancar” doa inilah yang di kabulkan tuntas oleh Allah SWT. Ya, kita harus berhati-hati dalam berkata-kata.
Perjalanan macet, Bus mogok dan harus menunggu 9 jam datangnya bus pengganti, merupakan beberapa hal yang harus saya rasakan. Perjalanan mudik kali ini benar-benar menguji keimanan kita. Betapa tidak, subuh tidak berhenti, dhuhur asar tidak berhenti. Itulah yang di lakukan oleh supir bus karya jasa. Dan ketika bus melupakan Allah, Allah kasih Mogok dan Rusak Bus Ini.
Terus apa yang harus saya lakukan, ya dengan kondisi sesempit apapun sholat harus tetap kita laksanakan dan yang saya heran, hanya ada 2 orang yang sholat di dalam bus. Wow inilah keadaan umat islam di negeri ini, saya yakin sebagian besar penumpang Bus Karya Jasa ini adalah umat islam, namun itulah kondisinya. Sholat subuh tidak bisa di jamak (konsekuensi sholat dalam bus) waktu dhuhur asar tidak berhenti (ya harus sholat dalam bus juga)
Ya Penulis juga bukan orang yang baik sekali, penulis juga masih banyak terdapat dosa, namun saya hanya berusaha untuk tidak meninggalkan sholat dan apakah sholat kita diterima atau tidak, itu semuanya dan sepenuhnya hak Allah.
Pelajaran mudik, semoga menjadi evaluasi kedepan jika ingin mudik, dan menjadi bekal agar kita semakin mendapat hikmah di setiap kejadian yang kita lalui. Hidup di dunia hanya sementara, jangan sampai kita mengorbankan kepatuhan kita kepada Allah (utamanya sholat) dalam kondisi apapun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

facebook comments: