Anak

By farisbudi
In Muhasabah
Oct 9th, 2011
0 Comments
318 Views
Aku mengantar kakak perempuan anak bulik di puskesmas. Di situ aku mendapat banyak pelajaran yang sangat berharga.
Di awali pada saat mengambil nomor antrian kemudia menunggu panggilan. Aku duduk bersama anak kakak saya.
Aku melihat anak kecil seusia anak itu duduk bersama ibunya. Dengan beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh ibunya aku cukup terkejut karena dia lancar dalam menjawabnya. Kemudia ia di tinggal oleh ibunya masuk dapat panggilan untuk giliran periksa. Anak itu sangat pemberani bahkan ketika itu dia mencoba mendekat mengajak berkenalan dengan keponakan ku. Aku pun bertanya kepada dia, tentang nama, alamat dsb. Dia senang dalam menjawab. Sejenak aku berfikir, apakah aku bisa membesarkan anak ku kelak.
Kemudian perhatianku berpindah pada seorang laki-laki yang datang bersama istrinya sedang memeriksakan kandungan. Dari puluhan orang yang mengantri aku memberikan apresiasi kepada orang itu, aku melihat ia membaca buku ketika menunggu istrinya sedang mengantri juga ingin memeriksakan kehamilannya. Disaat orang-orang disekitarnya sibuk ngobrol, melamun, menonton tv dia merupakan orang benar-benar memanfaatkan waktu. Apakah aku bisa seperti dia yang dapat memanfaatkan waktu di setiap tempat dan setiap saat.
Beberapa saat kemudian aku melihat dua orang tua yang saya kira hanya selisih sedikit mengenai usianya. Sekitar 70 tahun, ada dua hal yang berbeda. Orang tua yang satu berpakaian rapi memakai peci dan ternyata ia mengantarkan istrinya untuk periksa gigi. Aku lihat orang itu ramah kepada siapa saja ia selalu tersenyum ketika melihat orang dan menunduk ketika berjalan di depan orang lain begitu pula istrinya, ia pun begitu. Dengan badan sehat mereka berjalan berdua menuju motor yang ia gunakan sambil tersenyum. Orang tua yang satunya, memakai batik dengan perawakan cukup tegap tetapi seluruh badannya gemetar ketika berjalan dan tampak kesulitan untuk berjalan ia seperti terkena stroke, ketika melipat kemudian memasukkan askin/surat keterangan periksanya ke dalam sakunya ia memerlukan waktu lebih dari lima menit. Aku cukup tertegun melihat keadaan itu. Dua insan yang hampir sama umurnya namun berbeda keadaannya. Dalam hatiku bertanya akan seperti apakah aku ketika nanti saya sudah lanjut usia?.
Beberapa saat kemudia masuk ibu paruh baya bersama anaknya yang baru pulang dari sekolah, karena anak itu memakai seragam dan memakai kerudung. Terlihat cantik dan solihah anak itu. Ia bergembira membawa mainan seperti apolo yang kadang ia tembakkan dan dapat meluncur keatas. Ibunya pun terlihat segar ingin periksa gigi. Kemudian aku juga melihat anak seumuran dengan kaos lusuh terlihat di kepalanya sakit dan ingin diperiksakan jauh berbeda dengan anak prempuan tadi. Ia bersama neneknya. Anak itu menangis ketika ingin diperiksa oleh ibu dokter. Ia terlihat ketakutan melihat ibu dokter padahal hanya membawa senter untuk memeriksa keadaan kepala anak itu. Ia selalu menjerit dan menangis keras ketika ingin diajak oleh neneknya periksa. Akhirnya nenek itu menyerah dan membawa pulang anak itu. Hatiku kembali berfikir dan merenungkan disitu kembali ada dua perbedaan dalam membesarkan anaknya. Bagaimanapun orang tua sangat berperan besar dalam mendidik dan membesarkan anaknya.
Semua yang kita lalui tidak akan berarti dan bermakna jika kita sendiri tidak memberi arti dan makna pada setiap drama yang kita lalui.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

facebook comments: